Lukisan Dadaisme

Lukisan Dadaisme
jahns-consulting

Senin, 21 Februari 2011

Dadaisme

I. PENGENALAN
Dada, adalah sebuah gerakan seni di awal abad 20, yang anggotanya bertujuan untuk menyindir secara konyol kebudayaan pada masa itu melalui rancangan seni pertunjukan, puisi, dan seni visual yang absurd. Para Dadais merangkul hal-hal yang luar biasa, irasional, dan yang bertentangan secara besar-besaran sebagai reaksi terhadap kebrutalan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tak dapat dipahami dalam Perang Dunia I (1914-1918). Karya mereka dipicu oleh keyakinan bahwa nilai-nilai nasionalisme kebudayaan Eropa yang tertancap kuat, militerisme, dan bahkan tradisi panjang filsafat rasional mempunyai andil yang besar atas terjadinya kengerian perang tersebut. Dada sering digambarkan sebagai nihilistik, yaitu menolak semua nilai-nilai moral; bagaimanapun juga, para Dadais menganggap gerakan mereka sebagai penegasan akan pentingnya hidup ketika menghadapi kematian.

II. BENTUK-BENTUK AWAL
Gerakan Dada memperoleh nama dan identitas yang dapat dikenal jelas pada tahun 1916, tapi karya beberapa seniman sebelumnya telah mengandung roh Dada pada tahun-tahun lebih awal. Pada tahun 1913, seniman Perancis Marcel Duchamp membuat karya-siap-saji pertamanya, yang mana ia mengerek obyek sehari-hari seperti roda sepeda atau rak botol, mengangkat statusnya menjadi setara dengan seni ukir hanya dengan cara memamerkannya di galeri dan mendaulatnya sebagai seni. Duchamp dan seniman Perancis lainnya, Francis Picabia, membuat lukisan-lukisan dan gambar-gambar yang penuh dengan main-main, dan ukiran yang menggambarkan figur sebentuk mesin misterius-sebuah sindiran keras terhadap teknologi baru. Karya mereka menarik perhatian himpunan kecil-tapi-aktif para pemuka masyarakat, penulis, dan seniman Amerika yang simpatik termasuk fotografer Man Ray.
III. KABARET VOLTAIRE
Dadaisme diluncurkan secara sungguh-sungguh pada Februari 1916 ketika Hugo Ball, seorang penyair dan musisi Jerman, beserta istrinya, seniman panggung Emmy Hennings, membuka Kabaret Voltaire di Zurich, Swiss. Sebagai negara netral, Swiss adalah tempat perlindungan bagi para penentang perang, dan sedari awal Kabaret tersebut telah menarik banyak kelompok seniman dan kaum intelektual internasional. Mereka lalu melaju dibawah panji Dada, sebuah istilah yang asal muasalnya masih diperdebatkan. Penulis Jerman (yang kemudian menjadi psikolog), Richard Huelsenbeck, mengklaim bahwa ia dan Ball memilih nama itu sebagai nama panggung bagi penari wanita dalam Kabaret; tapi penulis Rumania yang lahir di Perancis, Tristan Tzara, yang menjadi penyebar utama Dada, juga mengklaim kepenulisan nama tersebut. Dalam beberapa hal, nama Dada, yang bahasa Perancisnya “kuda mainan”, memenangkan banyak dukungan untuk keambiguannya dan jelas-jelas tak punya makna sama sekali. Dalam manifesto pada tahun 1918, Tzara memproklamirkan, “DADA BERARTI BUKAN APA-APA”.
Acara-acara malam hari di Kabaret Voltaire dimaksudkan sebagai sindiran keras dan mengundang pementasan oleh sebagian penyair yang merupakan anggota gerakan seni sejawat di Italia yang dinamakan futurisme, yang merayakan permesinan, kecepatan, dan aspek-aspek lainnya dari kehidupan modern. Keseragaman pemahaman diletakkan paling rendah, dan busana yang dikenakan seringkali aneh. Seniman Perancis, Jean Arp, adalah partisipan tidak tetap dalam Kabaret Voltaire yang menggambarkan sebuah malam pementasan sebagai “Kekacauan total. Orang-orang di sekeliling kami berteriak, tertawa, dan menggeliat-gelinjang. Sahutan-sahutan kami adalah desah-desah cinta, berondongan sedakan, puisi-puisi, lenguhan-lenguhan… Tzara meliuk-liukan pantatnya seperti perut penari oriental. [Seniman Rumania Marcel] Janco memainkan biola tak kasat mata lalu menunduk dan menggesek-geseknya… Nyonya Hennings, dengan wajah Madonna, merenggangkan kakinya sampai ke dasar lantai. Huelsenbeck menabuh-nabuh drum yang sangat besar tanpa henti, dengan Ball menemaninya pada piano, pucat pasi seperti hantu berkapur.”
Para Dadais mempromosikan seni untuk anak-anak, orang gila, non-eropa, dan orang-orang lainnya yang di luar norma-norma yang bisa diterima masyarakat Eropa.
IV. DADAISME DI JERMAN DAN PERANCIS
Dalam setahun sejak didirikan pada tahun 1916, fokus Dada bergeser. Kabaret Voltaire hanya bertahan lima bulan, dan Ball keluar dari gerakan tersebut tahun 1917. Tzara tetap aktif di Zurich, menerbitkan majalah Dada, tapi Huelsenbeck pada tahun 1917 kembali ke Berlin, ibukota Jerman yang luluh lantak oleh perang, di mana Dada menjadi jauh lebih condong ke politik. Huelsenbenk membuat komitmen terhadap filsafat politik sosialis sebagai prinsip sentral Dada, dan kemudian menariknya kembali, “di sana ada seniman dan borjuis. Kau harus mencintai satu dan membenci yang lain.”
Sementara Huelsenbeck memproklamirkan “Dadais mempertimbangkan perlunya untuk mulai keluar melawan seni, karena ia telah melihat di balik kepalsuannya sebagai keran keamanan moral,” seorang Dadais Jerman lainnya menghasilkan ejawantah karya seni visual penting dari gerakan tersebut dalam bentuk potret serpihan. Menggunakan gambar-gambar yang dipotong dari koran-koran dan bungkusan iklan, seniman Raoul Hausmann, John Heartfield, dan Hannah Hoch membuat karya serpihan satiris yang brutal menyerang masyarakat dan pemerintah Jerman. Seniman Jerman George Grosz membuat gambar-gambar menggigit secara seimbang yang mendakwa masyarakat Jerman terhempas ke jurang kekacauan yang dalam setelah kalah perang.
Pusat lainnya dari aktivitas Dada di Jerman termasuk Cologne, di mana Max Ernst membuat lukisan-lukisan dan karya serpihan, dan Hannover, di mana Kurt Schwitters merakit ukiran dari serpihan-serpihan puing bangunan biasa. Proyek Schwitters, yang dinamainya Merz (rakitan kata), mencapai puncak dalam karya yang dinamainya Merzbau (1923-1936, dihancurkan), sebuah rakitan dari obyek-obyek yang kurang berguna yang memenuhi hampir seluruh studio dan rumah keluarganya. Cengkeraman Dada yang terakhir adalah di Paris, tempat ke mana hampir semua partisipan pentingnya-Tzara, Ernst, Picabia, Duchamp, Man Ray, dan Arp—pindah antara tahun 1919 sampai 1922.
V. WARISAN DADA
Pada akhir tahun 1922 gerakan Dada mulai runtuh. Perselisihan meningkat di antara beberapa anggotanya, dan yang lainnya tampaknya lelah mempertahankan pendirian kebencian membabi buta terhadap masyarakat. Di Paris para Dadais bergabung dengan sekelompok penulis, termasuk orang-orang Perancis André Breton, Louis Aragon, Paul Éluard, dan Philippe Soupault, yang menuangkan ketertarikan Dada terhadap irasionalitas dan kesempatan ke dalam gerakan baru yang dikenal sebagai surealisme. Pengaruh Dada juga terasa dalam beberapa gerakan-gerakan sesudahnya. Antara lain kelompok seniman pementasan pada tahun 1960 yang dikenal sebagai Fluxus; gerakan seni pop, yang mana meracik image dari kebudayaan populer; dan gerakan seni konseptual, yang mana menampilkan konsep/ide itu sendiri sebagai seni.

Tokoh Dadaisme

a. internasional

  • Guillaume Apollinaire — Prancis
  • Hans Arp — Swiss, Prancis dan Jerman
  • Hugo Ball — Swiss
  • Johannes Baader — Jerman
  • John Heartfield — Jerman
  • Arthur Cravan — Amerika Serikat
  • Jean Crotti — Prancis
  • Theo van Doesburg — Belanda
  • Marcel Duchamp — Prancis dan Amerika Serikat
  • George Grosz — Jerman
  • Max Ernst — Jerman
  • Elsa von Freytag-Loringhoven — Amerika Serikat, Jerman
  • Hannah Höch — Jerman
  • Marsden Hartley — Amerika Serikat
  • Raoul Hausmann — Jerman
  • Emmy Hennings — Swiss
  • Richard Huelsenbeck — Swiss dan Jerman
  • Marcel Iancu — Swiss (lahir di Romania)
  • Clément Pansaers — Belgia
  • Francis Picabia — Swiss, Amerika Serikat dan Prancis
  • Man Ray — Amerika Serikat dan Prancis
  • Hans Richter — Jerman, Swiss dan Amerika Serikat
  • Kurt Schwitters — Jerman
  • Sophie Taeuber-Arp — Swiss
  • Tristan Tzara — Swiss dan Prancis (lahir di Romania)
  • Beatrice Wood — Amerika Serikat dan Prancis
  • Ilia Zdanevich (Iliazd) — Georgia dan Prancis
Contoh gambar Dadaisme


     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Fauvisme

    Fauvisme adalah suatu aliran dalam seni lukis yang berumur cukup pendek menjelang dimulainya era seni rupa modern. Nama fauvisme berasal dari kata sindiran "fauve" (binatang liar) oleh Louis Vauxcelles saat mengomentari pameran Salon d'Automne dalam artikelnya untuk suplemen Gil Blas edisi 17 Oktober 1905, halaman 2.
    Kepopuleran aliran ini dimulai dari Le Havre, Paris, hingga Bordeaux. Kematangan konsepnya dicapai pada tahun 1906.

    Definisi

    Fauvisme adalah aliran yang menghargai ekspresi dalam menangkap suasana yang hendak dilukis. Tidak seperti karya impresionisme, pelukis fauvis berpendapat bahwa harmoni warna yang tidak terpaut dengan kenyataan di alam justru akan lebih memperlihatkan hubungan pribadi seniman dengan alam tersebut.
    Konsep dasar fauvisme bisa terlacak pertama kali pada 1888 dari komentar Paul Gauguin kepada Paul Sérusier:
    "How do you see these trees? They are yellow. So, put in yellow; this shadow, rather blue, paint it with pure ultramarine; these red leaves? Put in vermilion."
    "Bagaimana kau menginterpretasikan pepohonan itu? Kuning, karena itu tambahkan kuning. Lalu bayangannya terlihat agak biru, karena itu tambahkan ultramarine. Daun yang kemerahan? Tambahkan saja vermillion."
    Segala hal yang berhubungan dengan pengamatan secara objektif dan realistis, seperti yang terjadi dalam lukisan naturalis, digantikan oleh pemahaman secara emosional dan imajinatif. Sebagai hasilnya warna dan konsep ruang akan terasa bernuansa puitis. Warna-warna yang dipakai jelas tidak lagi disesuaikan dengan warna di lapangan, tetapi mengikuti keinginan pribadi pelukis.
    Penggunaan garis dalam fauvisme disederhanakan sehingga pemirsa lukisan bisa mendeteksi keberadaan garis yang jelas dan kuat. Akibatnya bentuk benda mudah dikenali tanpa harus mempertimbangkan banyak detail.
    Pelukis fauvis menyerukan pemberontakan terhadap kemapanan seni lukis yang telah lama terbantu oleh objektivitas ilmu pengetahuan seperti yang terjadi dalam aliran impresionisme, meskipun ilmu-ilmu dari pelukis terdahulu yang mereka tentang tetap dipakai sebagai dasar dalam melukis. Hal ini terutama terjadi pada masa awal populernya aliran ini pada periode 1904 hingga 1907.

    Pengaruh

    Pengaruh awal dari aliran ini mungkin sekali didapat dari rintisan yang dimulai oleh karya-karya Paul Cezanne, Gustave Moreau, Paul Gauguin, maupun Vincent van Gogh. Meskipun pelukis tersebut tidak melibatkan diri kepada gerakan fauvisme dan berbeda era dengan dimulainya aliran ini, namun karyanya menjadi acuan bagi pelukis muda yang nantinya akan menjadi pelukis fauvis.
    Meskipun hanya berumur pendek, aliran fauvisme menjadi tonggak konsep seni rupa modern berikutnya.
    Sejarah terbentukya
    Fauvisme adalah aliran yang menghargai ekspresi dalam menangkap suasana yang hendak dilukis. Tidak seperti karya impresionisme, pelukis fauvis berpendapat bahwa harmoni warna yang tidak terpaut dengan kenyataan di alam justru akan lebih memperlihatkan hubungan pribadi seniman dengan alam tersebut.

    Konsep dasar fauvisme bisa terlacak pertama kali pada 1888 dari komentar Paul Gauguin kepada Paul Sérusier:

    "How do you see these trees? They are yellow. So, put in yellow; this shadow, rather blue, paint it with pure ultramarine; these red leaves? Put in vermilion."

    "Bagaimana kau menginterpretasikan pepohonan itu? Kuning, karena itu tambahkan kuning. Lalu bayangannya terlihat agak biru, karena itu tambahkan ultramarine. Daun yang kemerahan? Tambahkan saja vermillion."

    Segala hal yang berhubungan dengan pengamatan secara objektif dan realistis, seperti yang terjadi dalam lukisan naturalis, digantikan oleh pemahaman secara emosional dan imajinatif. Sebagai hasilnya warna dan konsep ruang akan terasa bernuansa puitis. Warna-warna yang dipakai jelas tidak lagi disesuaikan dengan warna di lapangan, tetapi mengikuti keinginan pribadi pelukis.

    Penggunaan garis dalam fauvisme disederhanakan sehingga pemirsa lukisan bisa mendeteksi keberadaan garis yang jelas dan kuat. Akibatnya bentuk benda mudah dikenali tanpa harus mempertimbangkan banyak detail.

    Pelukis fauvis menyerukan pemberontakan terhadap kemapanan seni lukis yang telah lama terbantu oleh objektivitas ilmu pengetahuan seperti yang terjadi dalam aliran impresionisme, meskipun ilmu-ilmu dari pelukis terdahulu yang mereka tentang tetap dipakai sebagai dasar dalam melukis. Hal ini terutama terjadi pada masa awal populernya aliran ini pada periode 1904 hingga 1907.

     

    Tokoh Fauvisme

    Luar Negeri (internasional)
    1. Henry Matisse
    2. Andre Derain
    3. Georges Braque
    4. Albert Marquet
    5. Henry Manguin
    6. Charles Camoin
    7. Henry Evenopoel
    8. Jean Puy
    9. Maurice de Vlaminck
    10. Raoul Dufy
    11. Othon Fryez
    12. Georges Roua
    Contoh gambar Fauvisme

































      Tidak ada komentar:

      Poskan Komentar